no matter how much life is sucking, your awesome friends can make you laugh

Sabtu, 15 September 2012

IPS Tidak Seperti Yang Kalian Bayangkan !

Dulu, semasa SMP sepengetahuan saya anak-anak IPA itu lebih baik daripada anak IPS. Alasannya yaitu anak-anak IPS itu kebanyakan anak nakal (setau saya waktu dulu), sedangkan anak IPA lebih kalem-kalem dan rata-rata adalah kutu buku. Selain itu saya juga mendengar statemen dari beberapa anak/teman sekolah saya kalau jurusan IPS tempat anak buangan IPA, kelas tersisih, isinya anak nakal dan pemalas, berandal yang kritis,tukang santai, jago nyarat dan sebagainya. 

Memang, hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak seratus persen benar. Setelah akan ada pembagian jurusan di akhir semster dua kelas 1, langsung saja teman-teman saya memilih jurusan IPA karena hal-hal tersebut. Tapi entah mengapa dan ada apa, saya justru rada nyeleneh dan tertantang untuk memilih jurusan IPS (satu-satunya yang memilih angket IPS di kelas), dan akhirnya saya membuat keputusan untuk masuk ke jurusan IPS walaupun saya disarankan oleh orang tua dan teman-teman saya untuk masuk Jurusan IPA pada waktu itu. 

Nah karena saya sekarang ini adalah seorang anak IPS, saya ingin memaparkan sedikit pengalaman saya sebagai murid IPS. Sebuah kisah nyata tentang sebuah kehidupan siswa kelas Sosial. Yang bahagia sejahtera karena tidak perlu memikirkan kenapa apel jatuh kebawah atau menghitung tekanan udara. Hahahahaha :D

IPS=Ikatan Pelajar Santai, yah mungkin bisa dikatakan seperti itu bisa juga tidak. Saya pernah mendengar seorang teman dari kelas IPA berkata, “IPA dan IPS itu sama bagusnya, bedanya… belajar di IPS itu lebih santai…”

Benarkah saya sekolah sebagai pelajar yang santai??

Ya, kami santai. Karena kami tidak perlu menghitung rumus fisika berlembar-lembar. Tidak perlu menghitung massa jenis dan molekul sebangsanya, tidak perlu menghitung gaya sentripetal dan sentrifugal, serta tidak perlu mencari katak untuk dibedah dan diteliti system pencernaannya. Ya kan??

Apakah definisi sibuk-santai itu cuma berkutat di urusan hitung menghitung saja?
Kalau jawabannya tidak, berarti kami termasuk orang-orang sibuk. Kami harus menghadapi pandangan skeptis orang soal dunia IPS setiap hari. Saat bertemu tetangga, saya ditanyai, 
Wah, SMA x itu khan bagus! Kamu masuk jurusan apa?
“IPS…”
“Lho, ngapain masuk IPS?” tanya tetangga itu dengan sinis.
Dan perlakuan seperti itu tidak sekali dua kali, saya sudah kenyang dengan pertanyaan seperti itu.
Kesibukan kami yang lain adalah berusaha belajar dari buku dan dari lingkungan sekaligus. Hati kecil saya sering tergelitik saat para guru tidak berlaku sama seperti pelajaran yang mereka berikan. Sifat idealis ala Soe Hok Gie muncul, sehingga jam-jam kosong banyak diisi dengan obrolan ringan (yang lama-lama berat) soal pendidik-pendidik bobrok Indonesia. Sayangnya, guru-guru mengira kami cuma hobi mengobrol tidak jelas, karena kami tidak memegang pensil dan kertas berisi angka-angka.

Kemudian belajar di Jurusan IPS juga menyenangka hlloooo. . . . antara lain,

1. Belajar Hal Yang Dinamis
Di Jurusan IPS kita belajar banyak hal yang dinamis atau gampang berubah. Sebuah statement yang keluar dari seseorang pada tahun 1999 ternyata bisa dipatahkan oleh orang lain pada tahun 2008 dengan alasan mengikuti perkembangan zaman.

2. Melatih Kemampuan Berdiskusi dan Berdebat
Jurusan IPS an banyak terjadi perbedaan pendapat yang sangat mungkin menimbulkan perdebatan. Prinsip ilmu yang tidak pasti membuat kita dilatih untuk berpikir kritis dalam memandang suatu masalah. Kita dituntut untuk tidak langsung menerima dan menelan mentah-mentah suatu statement. Udah gitu, perdebatan yang terjadi akan lebih enak buat kita karena masalah diperdebatkan cenderung dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Mempelajari Ilmu yang Mudah Diterapakan di Kehidupan Sehari-hari
Ada yang bilang IPS tuh jurusan hapalan. Wakwau, salah besar tuh. Sebenarnya semua jurusan tuh ada hapalannya dan ada juga prakteknya. Sangat disayangkan ketika masih banyak yang belum menyadari adanya praktek jurusan IPS. Padahal pelajaran-pelajaran seperti Ekonomi, Geografi, Sosiologi justru lebih mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Kita bisa mencatat pengeluaran duit jajan kita. Kita juga bisa mengamati bahkan memberikan solusi pada berbagai penyimpangan sosial di sekitar kita. Yang lebih mantab nih kalau kita lagi kebetulan pulang kampung, kita bisa tuh mengamati sistem irigasi di sana. Sebenarnya sih masih banyak lagi tapi segitu dulu ajalah. Kalau masih kurang bilang aja, ntar saya kasih tahu.

4. Cocok untuk Siswa yang Ingin Aktif Berorganisasi
Masa-masa SMA bisa dibilang masa yang paling maknyus untuk belajar berorganisasi. Kenapa eh kenapa? Ini dikarenakan Masa SMA adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Sehingga kita membutuhkan bekal-bekal yang nantinya akan kita butuhkan di masa dewasa. Nah, salah satunya adalah kemampuan berorganisasi. Di Jurusan IPS beban pelajaran cenderung lebih ringan dibanding jurusan IPA yang biasanya dipenuhi banyak tugas. Bahkan saya malah meningkat prestasi akademiknya semenjak masuk Jurusan IPS dan aktif berorganisasi.

5. Prospeknya Lagi Cerah
Dahulu kala saat Orde Baru Jurusan IPA seakan lebih diunggulkan. Tahu gak kenapa? Itu dikarenakan pada masa pembangunan seperti saat itu kita memang banyak membutuhkan insinyur dan ilmuwan. Tapi sekarang, tren sudah berganti kawan. Ketika krisis global sedang melanda dunia, kita membutuhkan banyak ekonom yang punya pemikiran revolusioner.
Saya juga pernah mendengar pembicaraan dari seseorang, “Orang IPS cenderung lebih menang posisi dalam perusahaan”. Dari potongan pembicaraan tersebut, dan kemudian saya analisa ternyata ada benarnya. Alasannya simpel, kebanyakan orang IPA menjadi teknisi ahli yang bekerja dibelakang layar dari sisi teknis. Semenmtara orang IPS banyak menduduki posisi sebagai manajer karena dari pendidikannya adalah berusuan dengan manajemen. Itulah kondisi dan fenomena yang ada. Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, meraih kesuksesan karena pengetahuan ekonomi. Ekonomi di pelajari di jurusan IPS bukan IPA. Para pebisnis pun memerlukan pengetahuan sosial yang penting. Marketing, accounting, dan pengetahuan sosial lainnya adalah pengetahuan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang Chief Executive Officer. Jadi jangan pernah memandang rendah jurusan IPS, dan jangan juga terlalu memandang jurusan IPA merupakan jurusannya siswa pintar.

1 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites