no matter how much life is sucking, your awesome friends can make you laugh

Water

“Water has no taste, no color, no odor; it cannot be defined, art relished while ever mysterious. Not necessary to life, but rather life itself. It fills us with a gratification that exceeds the delight of the senses.”

Best House

Go to nature, My lovely shining fragile broken house is filled with flowers and founded on a rock.

Nature

Climb the mountains and get their good tidings. Nature's peace will flow into you as sunshine flows into trees. The winds will blow their own freshness into you, and the storms their energy, while cares will drop off like autumn leaves.

Subhanallah

I thank you Allah for this most amazing day, for the leaping greenly spirits of trees, and for the blue dream of sky and for everything which is natural, which is infinite.

Natural Disaster

Rising sea levels, severe draughts, the melting of the polar caps, the more frequent and devastating natural disasters all raise demand for humanitarian assistance and disaster relief.

Rabu, 13 Maret 2013

Apakah Harus Berpikir Positif, Negatif, atau Realistis?


Banyak buku buku yang mengajarkan kita untuk berfikir positif dalam menjalani hidup ini, kita ambil contoh buku "The Power of Positif Thinking" karya Norman Vincent Peale. Tapi ada juga buku yang mengajarkan kita untuk berfikir negatif seperti "Only Paranoid Survive" yang ditulis oleh mantan CEO Intel, Andy Grove. Selain kedua jenis buku yang saling berseberangan tersebut, ada juga buku yang mengajarkan kita untuk berfikir realistis seperti buku "Get Real" yang ditulis oleh Andrew Tani.


Paradox 3 hal ini menimbulkan pertanyaan. Jadi dalam menjalani hidup ini, kita sebenarnya harus gimana sih ? apakah harus menjalani hidup ini dengan berfikir positif, berfikir negatif atau berfikir realistis ?

Kalau kita menjalani hidup ini dengan hanya berfikir positif, sepertinya agak aneh, karena banyak hal hal negatif yang benar benar terjadi dalam hidup ini. Dan dengan terus berfikir posifif membuat kita tidak siap untuk menghadapi hal hal negatif tersebut. Menjalani hidup dengan hanya berfikir negatif, rasanya juga kurang pas. Memang kita jadi lebih siap menghadapi hal hal yang terjadi, tapi kok hidup mikirnya negatif terus, sepertinya tidak punya pengharapan, kan dalam hidup kita harus berfikir positif juga kan?

Kalu begitu apakah jawabanya berfikir realistis ? kalau memang keadaan positif, ya katakan positif dan kalau keadaan negatif, ya katakan negatif… 


Membutuhkan waktu yang lama saya merenungkan pertanyaan tersebut diatas dan akhirnya saya menemukan jawabannya dalam sebuah artikel mengenai permainan catur. Disana tertulis kutipan kata-kata Jeremi Silman yang juga merupakan penulis buku "Amateur's Mind". Ia mengatakan   :
“seorang pemain amatir biasanya hanya berfikir positif atau negatif dalam menghadapi lawan lawannya dan itu adalah sebuah kesalahan, ketika dia berfikir positif padahal posisinya tidak, maka dia akan terlalu banyak menyerang sehingga akan mudah dikalahkan. Dan ketika dia berfikir negatif padahal posisinya tidak, maka dia akan terlalu banyak bertahan dan akhirnya akan mudah dikalahkan juga. Seorang pemain catur yang baik harus berfikir realistis tentang posisinya dan kemudian melakukan langkah langkah yang diperlukan sesuai dengan posisinya”.

Woww, benar benar sebuah pernyataan yang membuka mata saya. Bukankah seorang amatir biasanya hanya berfikir positif dan negatif dalam hidup ini. Ketika dia menderita penyakit yang berat, biasanya dia akan berfikir positif dan berkata “Tuhan akan menyembuhkanku, Tuhan tidak pernah meninggalkanku dan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”, tanpa dia melakukan usaha yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakitnya sehingga penyakitnya tidak sembuh sembuh. Atau dia bisa berfikir negatif dan berkata “memang sudah takdirku menderita penyakit ini, aku hanya bisa pasrah karena ini adalah yang terbaik”, dan dia juga tidak melakukan apa apa untuk mendapatkan kesembuhan sehingga penyakitnya juga tidak sembuh.

Atau dalam kasus lain lagi, dia mendapatkan PHK karena krisis global yang melanda dunia. Seorang amatir yang hanya berfikir positif akan berkata “walaupun krisis melanda, walaupun banyak orang susah mendapatkan pekerjaan, tapi Tuhan akan menolongku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan” tanpa dia menganalisa pekerjaan macam apa yang dibutuhkan dan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan sehingga selama bertahun tahun dia tidak juga mendapatkan pekerjaan. Sedangkan seorang amatir yang hanya berfikir negatif hanya berkata “Ya, mau apa lagi, namanya juga lagi krisis, banyak orang yang di PHK dan susah mendapatkan pekerjaan, jadi ya tunggu saja sampai keadaan membaik”, dengan cara berfikir seperti ini tentu saja dia juga tidak akan mendapatkan pekerjaan.

Jadi apakah jawabannya berfikir realistis seperti yang disarankan oleh Jeremy Silman dan penulis penulis yang lain??  Menurut saya Jeremy Silman kurang lengkap, karena kalau kita hanya berfikir realistis dalam menghadapi hidup ini maka kita akan merasa kecil hati ketika menyadari bahwa keadaan tidak begitu baik dan kita akan merasa sombong ketika mendapati keadaan luar biasa baik. Dan ketika kita merasa sombong maka keadaan bisa berbalik menghantam kita.

Akhirnya setelah melalui perenungan yang dalam kesimpulannya adalah seperti ini :

“Berfikirlah reallistis dalam menghadapi hidup, dan ketika kita mendapati keadaan kita dalam posisi negatif, berfikirlah positif supaya kita mempunyai pengharapan dan bisa mengubah keadaan negatif tadi menjadi positif. Tapi ketika kita mendapati keadaan kita positif, barengilah dengan berfikir negatif supaya kita tidak terlalu percaya diri dan sombong, sehingga keadaan yang sudah positif dapat terjaga dan tidak berbalik menjadi negatif”
Dan tentu saja kita tetap harus percaya terhadap apa yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita, agar kita tetap selalu ingat bahwa semua usaha kita jika tidak diimbangi dengan doa dan syukur kita kepada Tuhan, tetap akan sia-sia. Karena kita tidak akan selamanya hidup di dunia kan? Kita juga akan mengalami masa dimana usaha-usaha duniawi tidak akan berarti apa-apa.


Demikianlah pendapat saya….apakah anda setuju ?

Rabu, 06 Maret 2013

Kepadamu, Pemilik Hati...


Kepadamu, pemilik hati yang tak sempat termiliki, yang hadir sebagai bagian permainan takdir. Aku menulis ini untukmu, bukan karena rindu. Mungkin kau lupa, tapi aku ingat, saat mata kita beradu dan kau bicara padaku. 

Detik ketika semesta mempertemukan kita, detik ketika kupupuskan angan untuk sekadar berteman denganmu. Karena sedari awal aku tahu yang kuinginkan darimu lebih dari itu. Kubunuh cinta yang kusimpan dalam bisu karena tak ada yang bisa kutawarkan padamu. Tidak!! selain cinta itu. Lalu kusembunyikan perasaan di balik topeng persahabatan. Berbahagia dengan menjadi yang lekat di hatimu, meski bukan sebagai kekasih

Aku tahu, kau sebenarnya tahu. Namun kau memilih seolah tak tahu. Karena apa yang kupendam tak pernah kauinginkan. Maka jika kukatakan, aku telah mengakhiri sesuatu yang belum kumulai, itu adalah engkau !! Maka jika kukatakan, aku telah kehilangan sesuatu yang belum tergenggam, itu adalah engkau !! Maka jika boleh kukatakan, inilah puncak segala perih, aku menyentuhmu, bukan memelukmu :'(

Maka jika boleh kukatakan, inilah hancur yang paling lebur, aku tetap berdiam di sampingmu, membunuh perlahan cinta itu. Pergi darimu bukanlah pilihanku dan tak pernah kuinginkan. Tidak !! hingga kau yang memilih dan menginginkannya.

Aku menulis tentangmu bukan karena rindu, aku telah berdamai untuk bahagiamu, lalu kusisir jalan di sisimu, mencari bahagiaku

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites