Liburan dan gak ada kerjaan, tiba-tiba iseng membuka lemari dan mata tertuju kepada suatu benda berwana kuning di rak bawah. Itu adalah "Document Keeper" berisi semua dokumen pribadi saya selama 17 tahun, dan mulailah saya membuka lembar pertama berisi....
Dokumen 1 : "Akta Kelahiran"
Madiun, 22 Juni 1996 pukul 18.15. Aku mulai mengirup udara dengan hidungku sendiri.
"Annisa'ush Shafiyah Azzahrah" diambil dari bahasa Arab berarti wanita berhati suci seperti bunga. Ayah yang membuatkan untukku, sulit sekali ejaannya! ya, aku yang punya nama pun merasa kesulitan.
"Dulu ayah mempersiapkan ini jauh-jauh hari, memang sulit, ayah akui, karena nama ini dari ejaan arab. Yang jelas ayah senang sekali saat kamu terlahir dan ayah berharap kamu menjadi seperti namamu kelak"
kata-kata yang dilontarkan ayah menggelitik hatiku dan membuatku enggan untuk protes lagi.
Dokumen 2 : "Siswa Berprestasi TK Bakti Winongo"
Madiun, Januari, 2002. Menjadi anak pertama dan satu-satunya adalah faktor utama aku memperoleh sertifikat ini. Karena kerja keras ibu aku bisa membaca, menulis, bahkan mengaji saat aku berumur 4 tahun. Karena kebutulan ibu juga seorang guru TK maka ibu mengerti bagaimana mengasah motorik halus, kasar dan entah apa itu namanya *bahasa guru TK*, membiarkan aku mencoret-coret di sembarang tempat (bahkan tembok rumah menjadi kanvasku waktu itu), bermain pasir dan lumpur, menggunting kertas, dan bermain air. Dan hasilnya ketika aku masuk TK aku sudah lihai dengan hal-hal tersebut, mulai membaca, menulis, mengaji, mewarnai, mencocok, kolase, mengecap, dsb. Dan inilah sertifikat dan trophy pertama yang aku punya.
Dokumen 3 : "SKTB TK Bakti Winongo"
Madiun, Juni, 2002. Surat kelulusan pertamaku. 1,5 tahun cukup untuk menyudahi sekolah di TK. Teman-teman yang masih aku ingat, entah sekarang mereka ada dimana. Maya sahabat kecilku, Mawar yang paling cantik dan endel di kelas, Aat si cowok cool yang jago menggambar, Shintya yang selalu jadi lead dance waktu menari, dan banyak lainya. Dan 1 kejadian yang masih hangat di pikiranku yaitu ketika aku jatuh dari selucuran setinggi 3 meter yang membuat kepalaku bocor dan harus dilarikan ke UGD, membawa bekas luka petal di kepalaku sampai sekarang.
Dulu, ibu selalu mengeluh karena aku terlalu manja dan cengeng. Mungking karena seharian penuh waktuku dihabiskan bersama ibu membuatku kesulitan untuk mandiri. Dan karena itulah aku masuk di MIT Bakti Ibu, satu-satunya sekolah "full day school" di Madiun, membuat waktuku lebih banyak tersita bersama teman-teman dan guru di sekolah dibandingkan dengan ibu di rumah.






0 komentar:
Posting Komentar